Lingkungan 2 menit baca 65 dilihat

Pentingnya Sastra Lingkungan Membangun Kesadaran Ekologi Melalui Karya Tulisan Kreatif

Arumi Nasha Razeta
14 January 2026 10:55 WIB

14 Januari 2026 - Sastra lingkungan, suatu pendekatan yang menggunakan karya tulis kreatif untuk membahas hubungan manusia dan alam, mendapat sorotan sebagai sarana membangun kesadaran ekologi secara halus dan mendalam. Pendekatan ini dianggap mampu menggerakkan perubahan melalui daya sentuh emosional dan imajinatif yang tidak dimiliki oleh data teknis atau kampanye langsung.

Konsep yang juga dikenal dengan istilah ekologi sastra atau ekokritik ini merupakan bidang interdisipliner yang mengkaji hubungan antara sastra dengan lingkungan hidup. Karya-karya sastra, baik dalam bentuk puisi, cerpen, novel, maupun cerita rakyat, telah lama menggunakan alam sebagai sumber inspirasi sekaligus alat untuk menyampaikan kritik sosial-ekologis. Melalui representasi keindahan alam, mitos, atau gambaran kerusakan lingkungan, sastra mengajak pembaca untuk melakukan refleksi, membangun empati terhadap alam, dan pada akhirnya mendorong tindakan yang lebih bertanggung jawab. Para ahli menilai kekuatan utamanya terletak pada kemampuannya "mengetuk kesadaran dengan cara yang lebih halus" tanpa terkesan menggurui.

Dalam dunia pendidikan, sastra lingkungan diakui memiliki potensi besar untuk menumbuhkan kesadaran ekologis sejak dini. Pembelajaran sastra di sekolah dapat mengangkat karya-karya bermuatan lingkungan sebagai media pendidikan karakter. Pembacaan puisi tentang alam, cerita rakyat yang sarat kearifan lokal, atau novel-novel yang menggambarkan harmoni dan eksploitasi alam, dapat menjadi simulasi imajinatif yang menyentuh jiwa siswa. Universitas-universitas juga semakin mengintegrasikan pendekatan ekokritik dalam kajian sastra, mendorong analisis kritis terhadap representasi alam dan isu keadilan ekologis dalam karya sastra.

Perkembangan terkini menunjukkan semakin maraknya penerbitan karya dan kajian yang mengusung tema ini. Baru-baru ini terbit kumpulan cerpen "Lelaki Tua yang Mencintai Flor De Mar" yang mengangkat isu pagar laut, melanjutkan tren terbitnya buku-buku bertema serupa seperti "Sastra dan Ekologi" pada 2023. Seminar-seminar akademik pun semakin sering membahas ekokritik sebagai arena negosiasi antara sastra, budaya, dan lingkungan. Minat yang tumbuh ini merefleksikan upaya kolektif untuk menemukan cara-cara baru yang efektif dalam menghadapi tantangan lingkungan global melalui medium budaya.

Tentang Penulis
Arumi Nasha Razeta

Administrator di Berita Trending

Kata Kunci
sastra lingkungan karya alam kesadaran ekologi melalui
Bagikan Artikel