22 Jan 2026 - Nilai tukar rupiah tercatat menguat 0.24 persen ke level Rp16.896 per dolar Amerika Serikat pada penutupan perdagangan Kamis (22/1), setelah sebelumnya menyentuh rekor terendah sepanjang masa. Penguatan terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menarik kembali ancaman penerapan tarif terhadap negara-negara Eropa, yang meredakan ketegangan geopolitik.
Faktor Eksternal dan Domestik yang Membebani
Pelemahan rupiah ke level terendah didorong oleh faktor eksternal dan domestik. Dari sisi global, ketegangan geopolitik dan kebijakan AS mendorong penguatan dolar sebagai aset aman. Kondisi ini diperparah oleh ketidakpastian arah kebijakan moneter Bank Sentral AS (The Fed), yang diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Di dalam negeri, pelemahan dipicu oleh pelebaran defisit anggaran 2025 menjadi 2.92 persen dari PDB—terlebar dalam dua dekade terakhir selain masa pandemi—yang memicu kekhawatiran investor mengenai keberlanjutan fiskal. Sentimen pasar juga terganggu oleh spekulasi terkait pencalonan Thomas Djiwandono, keponakan Presiden Prabowo Subianto, sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia, yang memicu pertanyaan tentang independensi bank sentral.
Kronologi dan Dampak Pelemahan
Pada perdagangan Senin (19/1), rupiah pernah ditutup pada level terendah sejarah di Rp16.935 per dolar AS. Sejak awal Januari 2026, rupiah telah terdepresiasi sekitar 2 persen, menempatkannya sebagai mata uang berkinerja terburuk di kawasan Asia berkembang. Defisit anggaran yang melebar telah memicu aliran modal keluar dari pasar obligasi pemerintah, dengan investor asing mencatatkan penjualan bersih sekitar $6.4 miliar pada obligasi sepanjang tahun lalu.
Pelemahan berkelanjutan berisiko membebani sektor-sektor yang bergantung pada bahan baku impor, seperti farmasi dan manufaktur, serta dapat meningkatkan biaya impor bahan pangan pokok. Meski demikian, otoritas menyatakan dampak terhadap inflasi hingga saat ini masih terbatas.
Langkah Otoritas dan Kondisi Terkini
Bank Indonesia dan pemerintah telah merespons kondisi ini. Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan fokus utama adalah menjaga stabilitas nilai tukar dan menyatakan proses pencalonan deputi gubernur berjalan sesuai hukum tanpa memengaruhi independensi bank sentral. BI diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) pada level 4.75 persen untuk menjaga stabilitas.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan defisit anggaran adalah kebijakan kontra-siklus untuk memacu pemulihan ekonomi dan meyakinkan bahwa fundamental ekonomi tetap kuat. Cadangan devisa Indonesia yang masih besar, sekitar $156.5 miliar pada akhir 2025, memberikan ruang bagi BI untuk melakukan intervensi guna menstabilkan nilai tukar jika diperlukan.
Mengapa nilai tukar rupiah melemah ke rekor terendah sepanjang masa?
Arumi Nasha Razeta
22 January 2026 21:58 WIB
Tentang Penulis
Arumi Nasha Razeta
Administrator di Berita Trending
Kata Kunci
rupiah
bank
nilai
tukar
terendah
persen
level