13 Feb 2026 - Pemimpin senior Hamas, Osama Hamdan, menyatakan bahwa rakyat Palestina tidak membutuhkan pasukan asing di Jalur Gaza menyusul rencana Indonesia mengirim sekitar 8.000 prajurit untuk bergabung dengan Pasukan Stabilisasi Internasional (International Stabilization Force/ISF). Pernyataan tersebut disampaikan Hamdan dalam wawancara dengan Al Jazeera Mubasher pada Rabu (11/2/2026), yang kemudian dikutip berbagai media internasional pada Kamis dan Jumat (12-13/2/2026).
Hamdan menegaskan bahwa Hamas telah berkomunikasi langsung dengan pemerintah Indonesia terkait rencana tersebut. Ia menekankan bahwa kehadiran pasukan internasional, termasuk kontingen Indonesia, harus tetap netral, terbatas pada penempatan di perbatasan Jalur Gaza, serta berfungsi memisahkan penduduk Palestina dari pendudukan Israel tanpa mencampuri urusan internal Palestina atau menggantikan peran pendudukan. Hamdan juga menyatakan bahwa Indonesia telah menjelaskan posisinya tidak akan menjalankan agenda Israel dalam misi tersebut.
Rencana pengiriman pasukan Indonesia muncul sebagai bagian dari fase kedua rencana perdamaian Gaza di bawah Board of Peace (BoP), yang dipimpin Amerika Serikat. Indonesia menjadi negara pertama yang secara terbuka mempersiapkan kontribusi signifikan, dengan estimasi hingga 8.000 personel dari total sekitar 20.000 pasukan ISF yang direncanakan dari berbagai negara. Persiapan tersebut mencakup pelatihan personel potensial untuk misi peacekeeping, dengan fokus pada dukungan kemanusiaan, rekayasa, dan medis, bukan pelucutan senjata secara langsung.
Sejumlah pejabat Indonesia, termasuk Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Maruli Simanjuntak dan juru bicara presiden, menyatakan bahwa proses persiapan masih berlangsung, termasuk koordinasi mandat, lokasi penempatan, dan aturan keterlibatan. Pengiriman pasukan diharapkan menjadi salah satu agenda dalam pertemuan Board of Peace di Washington akhir Februari 2026.
Pernyataan Hamdan mencerminkan sikap Hamas yang konsisten menolak kehadiran pasukan asing di wilayah Gaza kecuali dengan syarat ketat yang menjamin netralitas dan tidak mengganggu kedaulatan Palestina. Respons ini muncul di tengah persiapan ISF yang masih dalam tahap perencanaan, di mana beberapa negara lain menunggu kejelasan lebih lanjut mengenai peran pasukan dan kemajuan implementasi gencatan senjata.
Hingga Jumat pagi (13/2/2026), belum ada pernyataan resmi lanjutan dari Hamas atau pemerintah Indonesia terkait respons tersebut. Proses koordinasi antara kedua pihak dilaporkan terus berlangsung untuk memastikan keselarasan pandangan mengenai mandat ISF di Gaza.
Hamas Respons Rencana Pengiriman Pasukan ISF Indonesia
Arumi Nasha Razeta
13 February 2026 10:43 WIB
Tentang Penulis
Arumi Nasha Razeta
Administrator di Berita Trending
Kata Kunci
pasukan
indonesia
di
hamas
rencana
isf
2026